INDRAMAYU — Prestasi gemilang kembali diraih oleh SMK Nahdlatul Ulama Indramayu. Kali ini, dua siswa dari program keahlian Teknik Otomotif berhasil meraih medali emas di Kompetisi Teknologi Otomotif Indonesia (KTOI) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada 15-16 April lalu. Pencapaian ini menjadi bukti nyata komitmen institusi pendidikan vokasi di Kabupaten Indramayu dalam menghasilkan lulusan berkualitas dan berdaya saing internasional.
Dua siswa berprestasi tersebut adalah Rizki Pratama Putri, siswa kelas XII TAV-1, dan Muhammad Alif Nugraha, siswa kelas XII TAV-2, yang berhasil memenangkan kategori “Inovasi Sistem Kelistrikan Kendaraan Listrik” dalam kompetisi tingkat nasional yang diikuti oleh lebih dari 150 tim dari seluruh Indonesia. Peserta datang dari sekolah menengah kejuruan, politeknik, dan perguruan tinggi vokasi terkemuka yang tersebar di 34 provinsi.
Menurut catatan resmi yang diterima media ini, proyek yang dikerjakan oleh Rizki dan Alif bernama “Smart Battery Management System (SBMS) untuk Kendaraan Listrik dengan Teknologi IoT” merupakan hasil riset yang dilakukan selama delapan bulan di bawah bimbingan guru pembimbing mereka. Sistem ini dirancang untuk mengoptimalkan manajemen daya baterai kendaraan listrik dengan menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pengguna memantau kondisi baterai secara real-time melalui aplikasi mobile yang mereka kembangkan sendiri.
“Kami sangat bangga atas pencapaian ini. Rizki dan Alif telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam menyelesaikan proyek mereka. Mereka tidak hanya memenangkan kompetisi, tetapi juga telah membuktikan bahwa pendidikan vokasi di SMK Nahdlatul Ulama mampu menghasilkan inovasi yang berkontribusi pada perkembangan industri otomotif nasional,” ungkap Drs. H. Bambang Suryanto, Kepala SMK Nahdlatul Ulama, dalam wawancara eksklusif di ruang kerjanya pada Kamis (17/4/2026).
Suryanto menambahkan bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari yayasan, manajemen sekolah, dan para pendidik yang telah memberikan fasilitas terbaik untuk mendukung pengembangan bakat siswa. “Kami percaya bahwa vokasi bukan hanya tentang keterampilan praktis, tetapi juga tentang mendorong siswa untuk berinovasi dan berpikir kreatif dalam menyelesaikan permasalahan industri real-world,” kata beliau.
Perjalanan Menuju Prestasi
Rizki Pratama Putri, 18 tahun, menceritakan bahwa perjalanan menuju kompetisi nasional dimulai ketika dirinya dan Alif mengikuti ekstrakurikuler Robotika dan IoT di sekolah pada awal tahun ajaran 2025. “Saya tertarik dengan bidang otomotif sejak kecil. Saat guru pembimbing kami, Pak Dwi Hartono, mengumumkan adanya kesempatan untuk mengikuti KTOI, saya langsung bersemangat. Alif juga memiliki minat yang sama, jadi kami memutuskan untuk bergabung sebagai satu tim,” ujar Rizki sambil sesekali tersenyum sedih mengingat perjuangan mereka.
Perjalanan mereka tidak mulus. Pada bulan Desember 2025, proposal awal mereka ditolak oleh tim seleksi lokal karena dianggap terlalu kompleks dan tidak realistis untuk dikerjakan dalam waktu yang terbatas. Namun, alih-alih menyerah, Rizki dan Alif meminta bimbingan intensif dari guru pembimbing mereka untuk merevisi proposal. “Kami mengurangi scope dari yang awalnya mencakup sistem pengisian daya otomatis, menjadi fokus pada real-time battery monitoring saja. Kami belajar bahwa inovasi yang baik adalah yang dapat diimplementasikan, bukan hanya konsep bagus di atas kertas,” kenang Alif dengan penuh makna.
Sejak Januari 2026, Rizki dan Alif bekerja di laboratorium Teknik Otomotif sekolah hampir setiap hari setelah jam pelajaran. Mereka menghabiskan dana pribadi mereka untuk membeli komponen elektronik, sensor IoT, dan kit microcontroller Arduino yang mereka butuhkan. Tidak jarang, kedua siswa ini lembur hingga malam hari untuk testing dan debugging sistem yang mereka buat. “Kami pernah hampir gagal ketika sensor suhu tidak terbaca dengan benar. Hampir seminggu kami coba untuk mencari tahu masalahnya,” cerita Rizki tertawa kecil.
Dwi Hartono, S.Pd., guru pembimbing yang berpengalaman 15 tahun di SMK Nahdlatul Ulama, memuji dedikasi kedua muridnya. “Rizki dan Alif adalah tipe siswa yang tidak pernah puas dengan hasil yang oke-oke saja. Mereka selalu ingin mencari cara yang lebih baik dan lebih efisien. Ketika ada masalah teknis, mereka tidak langsung bertanya, tetapi mencoba menggali sendiri dari berbagai sumber referensi, baik dari buku, jurnal teknis, maupun video tutorial dari YouTube. Itulah mindset yang harus dimiliki seorang engineer sejati,” ujar Hartono dengan penuh apresiasi.
Inovasi yang Relevan dengan Industri
Sistem yang dikembangkan Rizki dan Alif merupakan respons terhadap tantangan nyata dalam industri otomotif listrik Indonesia yang berkembang pesat. Dengan semakin banyaknya kendaraan listrik yang digunakan di perkotaan, kebutuhan akan sistem manajemen baterai yang handal dan efisien menjadi semakin penting. Baterai adalah komponen termahal dalam kendaraan listrik, dan kegagalan manajemen daya dapat menyebabkan penurunan performa dan umur pakai baterai.
Inovasi mereka menggabungkan beberapa teknologi unggulan. Pertama, menggunakan sensor BMS (Battery Management System) profesional yang dapat mengukur tegangan, arus, dan suhu setiap sel baterai dengan presisi tinggi. Kedua, mereka mengintegrasikan microcontroller STM32 yang mampu memproses data dengan kecepatan tinggi. Ketiga, sistem dihubungkan dengan cloud server untuk penyimpanan data historis dan analisis pola penggunaan. Keempat, aplikasi mobile yang user-friendly memungkinkan pengguna untuk melihat status baterai real-time, mendapatkan notifikasi peringatan, dan bahkan menerima rekomendasi pengisian daya optimal.
“Yang istimewa dari proyek mereka adalah pendekatan holistik mereka. Mereka tidak hanya membuat hardware, tetapi juga memikirkan user experience dan sustainability. Mereka bahkan menghitung carbon footprint dari proses pengisian daya dan memberikan rekomendasi jadwal pengisian yang paling ramah lingkungan,” jelas Hartono sambil membuka dokumentasi proyek mereka di laptop.
Dalam presentasi di depan dewan juri pada hari kompetisi, Rizki mendemonstrasikan sistem mereka dengan menggunakan simulator kendaraan listrik berukuran miniatur. Mereka menunjukkan bagaimana sistem dapat mendeteksi anomali pada satu sel baterai dan memberikan alert untuk segera melakukan servis. Juri tampak sangat terkesan dengan kemampuan sistem yang dapat memprediksi umur sisa baterai dengan akurasi hingga 92 persen.
Dampak bagi SMK Nahdlatul Ulama dan Ekosistem Pendidikan Vokasi
Pencapaian Rizki dan Alif membawa dampak signifikan bagi SMK Nahdlatul Ulama. Pertama, prestasi ini meningkatkan reputasi sekolah di tingkat nasional. Dalam tiga tahun terakhir, SMK Nahdlatul Ulama telah meraih berbagai penghargaan di kompetisi tingkat nasional, mulai dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS), World Skills Competition, hingga berbagai kompetisi inovasi.
“Peminat masuk ke SMK Nahdlatul Ulama mengalami peningkatan 35 persen tahun ini dibandingkan tahun lalu. Banyak orang tua murid yang terinspirasi oleh prestasi-prestasi ini dan yakin bahwa anak-anak mereka akan mendapat pendidikan berkualitas di sini,” ungkap Siti Nurhaliza, S.Pd., Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SMK Nahdlatul Ulama.
Kedua, prestasi ini memotivasi siswa-siswa lain untuk lebih serius dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri. Sudah ada beberapa tim siswa lain yang kini sedang bersiap untuk mengikuti kompetisi nasional lainnya, seperti Innovation Challenge 2026 yang akan diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian.
Ketiga, pencapaian ini membuka peluang kerjasama dengan industri. Beberapa perusahaan otomotif besar sudah mulai menunjukkan minat untuk memberikan kesempatan magang atau beasiswa kepada siswa berprestasi dari SMK Nahdlatul Ulama. “Kami sedang dalam tahap negosiasi dengan dua perusahaan otomotif terkemuka untuk program apprenticeship bagi siswa-siswa terbaik kami,” tambah Kepala Sekolah.
Visi Pendidikan Vokasi yang Berkembang
Melihat pencapaian Rizki dan Alif, terlihat jelas bahwa SMK Nahdlatul Ulama berkomitmen untuk tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis semata, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Dalam kurikulum mereka yang disebut “Kurikulum Berbasis Proyek”, siswa diajak untuk menyelesaikan proyek-proyek nyata yang relevan dengan industri sejak kelas X.
“Pendidikan vokasi di era digital ini tidak boleh hanya mengajarkan cara menggunakan tools dan mesin, tetapi juga mengajarkan siswa bagaimana berinovasi dengan tools tersebut. Kami ingin menciptakan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” jelas Drs. Bambang Suryanto dengan visi yang jelas.
Sekolah juga telah mengupgrade fasilitas laboratorium mereka dengan peralatan terkini. Laboratorium Teknik Otomotif kini dilengkapi dengan diagnostic equipment, automotive simulator, dan IoT development kit yang sebelumnya hanya tersedia di universitas-universitas besar. “Kami percaya bahwa investasi pada infrastruktur dan fasilitas adalah investasi pada masa depan siswa-siswa kami,” ujar Suryanto.
Rencana Masa Depan Rizki dan Alif
Setelah meraih emas di KTOI 2026, Rizki dan Alif semakin bersemangat untuk melanjutkan riset mereka. Mereka sudah merencanakan untuk mengajukan proposal ke Ditjen Pendidikan Vokasi untuk mendapatkan pendanaan guna membuat prototype yang lebih advanced dan melakukan uji coba di kendaraan listrik nyata.
“Rencana jangka panjang kami adalah melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, mungkin ke program sarjana terapan atau bahkan internasional. Kami juga tidak menutup kemungkinan untuk memulai startup teknologi sendiri di bidang smart mobility,” ungkap Rizki dengan antusias.
Sementara itu, sekolah juga memberikan beasiswa penuh kepada Rizki dan Alif untuk melanjutkan ke Diploma 4 di salah satu institusi vokasi terkemuka di Indonesia. “Ini adalah bentuk apresiasi kami atas prestasi yang telah mereka ukir. Kami juga ingin memastikan bahwa talenta-talenta terbaik ini tidak sampai tersesat di tengah jalan,” tutur Suryanto.
Penutup
Prestasi Rizki Pratama Putri dan Muhammad Alif Nugraha di Kompetisi Teknologi Otomotif Indonesia 2026 bukan hanya sekadar medali emas yang mereka bawa pulang. Lebih dari itu, pencapaian ini adalah representasi dari dedikasi, kerja keras, dan inovasi yang dapat lahir dari pendidikan vokasi berkualitas. Di tengat tantangan transformasi digital dan revolusi industri, SMK Nahdlatul Ulama berhasil menunjukkan bahwa sekolah menengah kejuruan bukan hanya tempat mengajarkan skill praktis, tetapi juga tempat tempering calon profesional yang siap menghadapi masa depan.
Bagi Indramayu khususnya, prestasi ini adalah kebanggaan. Sebuah kabupaten yang dalam dekade terakhir fokus pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, kini membuktikan bahwa investasi tersebut membuahkan hasil nyata. Seiring dengan target Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan persentase lulusan vokasi dari 30 persen menjadi 60 persen pada 2030, contoh-contoh seperti Rizki dan Alif akan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk memilih jalur vokasi sebagai pilihan karir yang prestisius dan menguntungkan.
Ke depannya, diharapkan pencapaian ini akan memicu lebih banyak siswa lain untuk berani bermimpi dan berinovasi, serta memotivasi institusi pendidikan vokasi lainnya untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan bakat siswa mereka.
—
Catatan Redaksi:
– Artikel diterbitkan pada 17 April 2026
– Kompetisi diadakan 15-16 April 2026 di Jakarta
– Foto dokumentasi Rizki dan Alif bersama sistem inovasi mereka tersedia untuk kebutuhan publikasi lebih lanjut